Setetes Manisnya Dunia

Dunia, begitu indah nan memesona. Kilauanya terkadang bisa membutakan mata. Bukan ke dua mata kita yang bisa melihat segala elok rupanya, tapi mata hati yang bersih nan jernih. Banyak orang yang mengejar-ngejar dunia, hingga terlupa bahwa semakin kita kejar maka ia akan semakin menjauh dari kita.
 
Teringat sebuah kisah,
Disebuah pohon yang besar ada satu sarang lebah yang besar. Tak sengaja, setetes madu dari sarang lebah tersebut menetes jatuh keatas tanah dibawah pohon tersebut dimana didekatnya ada sarang semut. Seekor semut yang kebetulan sedang berada didekat tetesan madu tersebut mencium aroma manis yang menggiurkan dari setetes madu yang jatuh diatas tanah tersebut.
semut tersebut kemudian mendatangi setetes madu yang jatuh tersebut dan mencicipi pinggiran tetes madu tersebut. “Wah, manis sekali” kata semut kecil tersebut dalam hati. Setelah itu semut tersebut hendak pergi untuk melanjutkan pekerjaannya dalam koloni semut. Namun semut tersebut tidak bisa fokus dan berkonsentrasi dalam tugasnya di koloni semut. Agaknya rasa manis madu tadi sudah berhasil memikat dirinya. Berlarilah kemudian si semut kecil meninggalkan tugasnya menuju tempat madu tadi.
Semut kecil tidak puas hanya mencicipi sedikit rasa dari pinggiran madu yang jatuh tersebut. “Pinggiran madu ini saya sudah terasa manis, bagaimana rasa yang ada ditengahnya” pikir sang semut. Semut tersebut kemudian mencoba bagian tengah madu tersebut. Namun rasa manis tersebut memikatnya lebih dalam. Semut itu kemudian berfikir “kenapa aku tidak menceburkan diri saja kedalam madu ini? lalu aku bisa merasakan manisnya madu ini lagi dan lagi!” – tandasnya dalam hati.
Karena sudah terpikat oleh manisnya madu, masuklah semut kecil itu didalam tetesan madu tersebut. Sialnya dia terjebak didalam madu itu. Tubuh kecil mungilnya tidak bisa bergerak dan dia kemudian mati didalamnya.

****
Kisah ini, semoga bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita. Bahwa kenikmatan dunia memang menggiurkan hati kita untuk terus mencicipi. Begitulah karena memang manusia seringkali tak merasa puas dengan apa yang dimiliki. 
Pepatah arab mengatakan, “tiada penggambaran dunia melainkan bagai tetesan besar madu, siapa yang mencicipinya sedikit maka selamatlah dia, namun siapa yang menceburkan dirinya kedalam, maka binasalah dia.”

Cukuplah sebentuk pelajaran dari semut ini untuk kita hayati dan maknai. Dunia hanyalah tempat persinggahan kita sementara, dan negeri akheratlah tempat kita kekal di dalamnya. Jika kita mengingkan kebaikan dan keindahan di Surga nanti, mari kita jadikan dunia ini sebagai tempat kita menanam kebaikan dan amal shalih, yang bisa kita petik di kehidupan akherat nanti.
Share:

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar Anda:

HIDANGAN WEB

Recent Comment