Hakikat Kehidupan Duniawi

Seorang balita menghempaskan mainan-mainan yang ia pegang hingga rusak. Ia mencoret-coret dinding dan lantai. Air yang ia minum dibuat mainan. Pipis di sembarang tempat. Kepada balita ini, apa yang kita lakukan? Memarahinya? Dendam? Mengatainya manusia tak tau diri? Atau menyakitinya?
Kalau ada orangtua yang sampai memperlakukan balitanya seperti itu, maka kita akan menyebutnya dengan berbagai sebutan buruk. Seburuk apapun yang dilakukan oleh anak kecil, pastilah kita semua akan memakluminya. Kita akan berkata “tidak apa-apa, namanya juga anak-anak”.
Jangan merasa aneh dengan tingkah laku anak-anak itu. Demikian juga jangan merasa aneh dengan makanan basi kalau rasanya tidak enak, dan kalau dipaksa akan berpenyakit. Jangan merasa aneh dengan kotoran yang baunya busuk. Parfum hanya menunjukkan sifat aslinya yang harum. Sebaliknya kotoran juga demikian. Jangan heboh kalau parfum baunya harum. Jangan heboh kalau kotoran baunya busuk. Semua hanya menampakkan sifatnya. Kalau Anda merasa aneh dengan itu semua, maka Andalah yang layak disebut aneh.

Terhadap dunia juga seperti itu. Kesukarannya, ketidakadilannya, dan semua keburukan yang terjadi, begitulah memang tabiatnya. Ia tidak menunjukkan kecuali sifatnya. Abdullah bin Mas’ud Ra berkata; “Dunia adalah tempat kerisauan dan duka cita, maka apabila terdapat kesenangan di dalamnya berarti itu hanya sekedar laba (bonus).”
Di dunia inilah semua bisa terjadi. Orang baik bisa dianggap bersalah. Orang jahat dianggap orang baik. Kebaikan bisa dibalas keburukan. Manusia munafik di puja-puja, manusia sholeh direndahkan. Bekerja jujur malah di jauhi, bekerja penuh kebohongan malah meraup banyak keuntungan. Ahli ibadah malah miskin, ahli maksiat malah kaya raya. Begitulah dunia. Jangan merasa aneh. Karena ia hanya menampakkan apa yang menjadi tabiatnya.

Sayyidina Ali Radhiyallahu anhu berkata, “Dunia adalah tempat beramal dan tidak ada pembalasan. Sedangkan akhirat adalah tempat pembalasan dan tidak ada amal.”
Artinya, janganlah kita berharap banyak terhadap dunia agar membalas semua kebaikan kita. Karena balasan itu sejatinya adalah kelak di akherat. Kalaupun balasan kebaikan kita diberikan di dunia, itu adalah bonusnya saja. Maka jangan sampai bonus-bonus kesenangan dan kebahagiaan itu membuat kita berasumsi bahwa dunia sedang berubah tabiat menjadi wahana kesenangan dan kebahagiaan. Keliru. Ia tetap dengan tabiatnya. Sejak ia diciptakan hingga nanti dimusnahkan. 
Ja’far Ash Shidiq radhiyallahu anhu berkata, “Siapa yang mencari sesuatu yang tidak dijadikan oleh Allah, berarti melelahkan dirinya sendiri dan tidak akan diberi.” Ketika ditanya, “Apakah itu?” beliau menjawab, “Kesenangan dunia.” Allah ta’ala berfirman, “Tidaklah kehidupan dunia itu kecuali hanyalah kesenangan yang menipu.”

Mari kita besepakat, bahwa dunia bukan Surga. Juga bukan neraka. Tabiat Surga adalah memberikan kepada penghuninya kenikmatan dan kesenangan. Tabiat neraka adalah menyiksa dan membinasakan penghuninya dengan cara mengerikan tak terbayangkan. Dunia bukan keduanya. Ia membawa tabiatnya sendiri. Kadang ia seakan-akan menjadi seperti surga tapi bukan surga. Kadang ia seakan-akan menjadi seperti neraka, tapi bukan neraka. Di Surga, pemilik kesenangan dan kebahagiaan itu terkhusus kepada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh. Di neraka, penerima siksa itu terkhusus kepada orang-orang yang tidak beriman dan ahli maksiat. Sedangkan di dunia, orang shalih dan ahli maksiat bisa menemukan kesenangannya sendiri-sendiri. Sebagaimana mereka juga akan mendapati kesusahannya masing-masing.
Para ahli hikmah, sangat mengerti dengan karakter dunia ini. Syaikh Junaid Al Baghdadi berkata, “Aku tidak merasa buruk terhadap apa yang menimpa diriku, sebab aku sudah teguh keyakinan bahwa dunia ini memang tempat kerisauan dan ujian, dan alam ini diliputi oleh bencana, maka sudah selayaknya ia menyambutku dengan segala kesukaran dan kerisauan. Maka kalau ia menyambutku dengan kesenangan, berarti itu sebuah karunia dari Allah dan kelebihan.”
Para penempuh perjalanan menuju Allah juga tak lepas dari “sambutan tak mengenakkan” dari dunia. Jangankan mereka, para nabi pun memperoleh sambutan yang sama. Nabi Musa dikhianati pengikutnya sendiri yang notabennya yang beliau tolong. Rasulullah dibenci dan disakiti, Sayyidina Umar yang memimpin dengan adil dibunuh rakyatnya yang kafir. Jangan mengira kalau sudah sholeh, sudah baik, sudah taat dan takwa, lalu kemudian dunia akan menyambut kita dengan “senyuman” lalu mau menghadiahi kita kesenangan, kemudahan, kejernihan, kelancaran urusan, bebas dari masalah, tidak sakit, sehat wal afiat, dan dicintai setiap orang.
Syaikh Ibn Athaillah mengingatkan tentang hal ini, karena seringkali anggapan-anggapan itu muncul di benak para penempuh perjalanan menuju Allah. Ketika komitmen untuk taqqarub (mendekat kepada Allah) sudah dipancangkan, kaki mulai melangkah semakin hari semakin bertaqwa, mulai istiqomah dalam amalan-amalan sunnah dan wiridnya, kadang muncul anggapan bahwa segala sesuatu akan berjalan dengan baik. Dia membandingkan dirinya dengan saat dulu dalam kelalaian. Katanya, wajar kalau dulu saya banyak masalah karena jauh dari Allah. Sekarang, katanya lagi, saya sudah makin dekat dengan Allah, semestinya kesulitan-kesulitan itu segera menjauh. Pemahaman ini jelas keliru.
Persoalannya bukan hanya apakah Anda sedang mendekat kepada Allah atau tidak. Tapi sadarilah di mana Anda sekarang berada. Anda tidak di Surga, Anda sedang di dunia. Dan mengertilah, dunia tak akan meniru surga dan tak akan meniru neraka, dia akan menjadi dirinya sendiri dengan segala tabiat kesukaran dan kesusahan yang dimilikinya.
Contoh ekstrimnya, tidak mungkin gara-gara Anda semalam shalat malamnya panjang, khusyu’, sampai menangis, lalu kemudian menjadikan bangkai hewan tercium menjadi harum, atau batu menjadi emas. Kalau pun itu terjadi, yang demikian itu adalah karunia dan pemberian Allah semata. Bukan bawaan dunia. 
Pemahaman ini sangat penting. Agar tidak ada yang jatuh pada asumsi keliru, mengukur kedekatan dirinya dengan Allah dengan kelapangan hidup dan terbebasnya dari kerisauan. Agar ukuran kedekatan itu kembali hanya diukur dengan satu; Makin takut kepada Allah, makin ikhlas, makin rindu kepada Allah. Tak peduli dunia mendatangi dengan tabiatnya, atau Allah berkenan merubahnya menjadi wahana kesengan dan kelapangan. Kalau ia datang dengan kesenangan, silahkan di syukuri karena itu karunia. Kalau ia datang dengan kesusahan dan kesukaran, ya biasa saja, tak usah heboh, “Dunia memang begitu”.
Wallahu a’lam bishshowab. 

Janganlah engkau merasa heran karena terjadinya segala kesukaran selama engkau masih tinggal di negeri ini (dunia). Karena sesungguhnya dia tidak terwujud melainkan apa yang memang layak bagi sifatnya dan yang wajib dari ciri-cirinya. (Al Hikam ke 32, Syaikh Ibn Athaillah)
Oleh : Ust. Bambang Heri Latief
Share:

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar Anda:

HIDANGAN WEB

Recent Comment