Saat Kita Berbeda

Dalam kesunyian kuhayati senandung Suara Persaudaraan,
Ajari aku tentang sunnah Nabiku
Ajarilah tentang indahnya ukhuwah
Ceritakanlah tentang para syuhada
Dan kemuliaan hidup dalam kesyahidan…


Kala jiwa-jiwa perindu ukhuwah itu menyapaku, seakan jasad kita menyatu. Canda dan tawa menjadi bagian dari jalan yang berliku.

Kala kita bertemu, senyummu ikut serta menghiasi cerah mentari. Hatiku semakin rindu kala aku jauh darimu. Kita bertemu karena-Nya. Karena-Nya pula kita bermesra menuju saat-saat yang kita nantikan.

Saat-saat semua orang merasakan indahnya ukhuwah bersama kita, merasakan hangatnya tali kekeluargaan dalam bingkai agama yang syar’I, ku ingin kita saling melengkapi. Bila ada salah, ku ingin kau segera menegurku dengan rayuan tarbiyah pencipta. Ceritakanlah kepadaku tentang perjuangan para Syuhada…

Kawanku, kurenungi kembali senandung Suara Persaudaraan,
Rasulullah mengajarkan tentang arti kata cinta
Yang harus diungkapkan pada sahabat atau saudara
Dengan kata-kata indah yang terungkap dari lisan
Seindah yang terpendam dalam qalbu…


Kawan… meski mendung menutupi cerah mentari, hingga hujan membasahi apa-apa yang ada di bumi, ku ingin kita tetap bernyanyi, menyenandungkan ukhuwah karena Ilahi. Yakinlah, dalam perjalanan kita ke depan nanti, akan ada kerikil yang menghampiri, akan ada ombak yang datang silih berganti. Tapi ku ingin kita bersama-sama melewati agar kita bisa sampai pada tujuan yang kita cari.

Kawan mari kita buka kembali lembaran sejarah yang pernah kita lewati:
Tahun 2006, tepatnya 14 Mei, entah sengaja atau tidak kita bersama-sama berkumpul, bersilaturahim, berta’aruf satu sama lain. Siang, kala seisi ruang menjadi terasa panas hingga keringat mulai bercucuran, kita pun mulai akrab, mulai timbul benih cinta dan kasih sayang. Di antara kita. Yah, diantara kita mulai ada ikatan “Ukhuwah”. Lama kala kita bercengkerama, kita pun memberikan nama ukhuwah kita dengan nama “Forspent”. Sebuah nama yang kita sepakati bersama agar ukhuwah ini kian bermakna, kian ada orang yang akan ikut andil di dalamnya.

Agar ukhuwah ini terus terbina, kita pun mulai sering mengadakan kajian, silaturahim, bedah buku, dan rihlah. Masih teringat jelas di memoriku, saat rihlah 17 Juli 2007, dua hari sebelum hari H kita harus pontang-panting mencari peserta. Tapi alhamdulillah, Allah menggerakkan mereka untuk ikut acara bersama kita. Hingga senyum pun mulai mengembang.

Di tahun 2008 kita bersama mengutip nama Gen’ Rabbani di buletin kita tercinta. Kita berharap dengan adanya Gen’ Rabbani bisa menjadi serana pendaftaran anggota untuk organisasi kita tercinta “Forspent”.

Kawan, tanpa terasa nama itu mengundan simpati ke beberapa. Bukan puluhan, tapi ratusan orang kemudian dengan rela hati ingin bersama untuk menyemai ukhuwah bersama organisasi kita. Dan kita pun bertambah azzam untuk terus menyulamnya menjadi ikatan ukhuwah yang sejati.

Kawanku, kemudian perjalanan kita di tahun 2009, kita mulai mencari orang-orang yang mau berjuang bersama kita untuk memajukan Gen’Rabbani. Kala itu, terkumpullah beberapa orang yang menerima tawaran kita dengan senang hati. Dan kemudian mereka berikrar diri untuk bersama membangun tatanan ukhuwah kita, hingga bertambahlah suara-suara yang ikut andil dalam syuro’ kita.

Di tahun inilah kita mulai menyusun program untuk kemajuan Gen’Rabbani. Hingga akhirnya kita memutuskan di tanggal 19 Juli 2009 untuk mengadakan Rihlah ke Jumok, agar wadah kita semakin bermanfaat. Sebuah antusias yang luar biasa dari anggota Gen’Rabbani, mereka berduyun-duyun ingin menikmati ukhuwah bersama dalam rihlah ini.

Kawanku, jerih payah dan kerja kita, semoga Allah mencatatnya, dan alhamdulillah kita diberi-Nya keistiqomahan sampai tahun 2010. Kita sering mengadakan koordinasi untuk terus memajukan Gen’Rabbani.

Tapi kawanku, cobaan demi cobaan terus menghampiri, hingga ada diantara kita yang tak kuat menahan diri dan mulai melepaskan dari ikatan ini.

Kawanku, terus genggam eratlah tangan kita bersama, agar semakin kokoh dan tak terlepas. Ku tahu, kala merajut ukhuwah ini, baju kita berbeda. Model atau warnanya pun tidak sama, yang kadang membuat kita iri, membuat kita tak sehati.

Tapi ketahuilah kawanku, bukan baju dengan model yang bagus, atau warna yang baju yang indah yang membuat kita tampan/cantik, namun hati dan akhlaq kita yang mempercantik diri.

Kawanku, sekali lagi kuresapi senandung Suara Persaudaraan,
Allah kuatkanlah serta liatkanlah
Agar cinta berbuah payung-payung perlindungan
Di hari kiamat, di hari tiada naungan kecuali dengan izin-Mu
Kunantikan janji-Mu, ku berharap kepada-Mu
Ku berada diantara tujuh golongan yang Kau lindungi.



*Tulisan ini dedikasi untuk teman-teman di Forspent 2006 - 2012.
Saat Kita Berbeda, Kembalilah Ke Misi Kita
Share:

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar Anda:

HIDANGAN WEB

Recent Comment