Belum Ada Judul

Seringkali waktu di sekolah yang dulu, saya dihadapkan pertanyaan dari murid saya, terutama yang putri, “Pak, pacar bapak namanya siapa?”. Saya pun cuma tersenyum mendengar pertanyaan-pertanyaan yang melintas itu. Pertanyaan yang saya kira amat wajar, dari seorang murid yang usianya sering dibilang puber. Apalagi waktu itu saya belum berkeluarga. Saya pun kemudian melontarkan pertanyaan balik ke murid-murid saya, “Siapa diantara kalian yang belum punya pacar?” Sesaat mereka terdiam, dan tak ada satupun murid yang berani menunjukkan jarinya. Kalau khusnuzon saya barangkali murid-murid malu untuk menujukkan jarinya. Tapi saya yakin tak sedikit diantara mereka yang tak mau menunjukkan jari karena memang benar-benar sudah punya sang doi. Kemudian saya melanjutkan pertanyaan saya kepada murid-murid, “Sebenarnya apa sih pacaran itu?” Begitu mendengar pertanyaan ini banyak sekali murid-murid menjawabnya dengan versi mereka sendiri-sendiri. Ada yang menjawab, “Pak pacaran itu, kita ya kencan di suatu tempat dengan kekasih kita.” Ada juga yang mengatakan, “Pak, pacaran itu kita berdua-duaan, bermesra, pokok yang menyenangkan deh pak.”

Mendengar jawaban mereka, saya pun cuma bisa tersenyum kembali. Ingin sekali melontarkan pertanyaan lagi, “Apa yang kamu lakukan dengan (pacarmu.red) ketika kamu berdua-duaan?” Tapi saya tak ingin menjatuhkan mereka, hingga pertanyaan itu saya pendam. Barangkali kalau saja saya lontarkan pertanyaan itu, mereka akan semakin terpancing dan marah. Sebab yang mereka butuhkan sebenarnya adalah bagaimana keluar dari dunia yang sudah terlanjur mereka berada di dalamnya.

Kemudian sembari berpikir, saya mengutarakan pertanyaan ke mereka lagi, “Kira-kira dengan kamu pacaran belajar kalian atau prestasi kalian ada perubahan tidak?” Dan diantara mereka ada yang menjawab, ya tapi sedikit, biasa saja, dan tidak. Kemudian mereka balik tanya kepada saya, “Kira-kira menurut bapak pacaran itu apa? Dan bapak sudah pernah pacaran belum?”

Saya sebenarnya juga belum berani jika harus mengutarakan pacaran itu apa, karena saya memang belum tau makna pacaran yang sebenarnya. Sayapun mencoba dengan dalih yang saya pernah saya dapatkan, karena semua murid yang ada di kelas itu beragama Islam.

“Maaf anak-anakku… Dalam Islam sebenarnya tidak ada istilah pacaran. Jika pacaran yang kalian maksud adalah berdua-duaan dengan lawan jenis itu berarti namanya ikhtilat, dan itu diharamkan dalam ajaran Islam, karena sudah barang tentu yang ketiganya adalah syetan. Syetan memang tidak nampak saat berdua-duaan, tapi syetan akan mengarahkan dan menjerumuskanmu kelubang kenistaan, maksiat dan dosa. Coba saja jika kalian berdua-duaan dengan lawan jenis, pertama mungkin saling memandang, kedua mungkin berpegang-peganganan dan ketiga bisa jadi (maaf) buka-bukaan, selanjutnya …. pasti kalian juga tau. Inilah skenario syetan agar umat Islam terjurumus ke dalam lembah dosa yang dinamakan zina. Kalau al Qur’an telah menyebutkan; walaa taqrabuzzina (janganlah kalian mendekati zina), mendekati saja tidak boleh apalagi berbuat.”

Menjadi heninglah suasana di kelas itu. tapi sesaat ada seorang murid melontarkan kalimat, “lha pak kalau berdua-duaan dengan lawan jenis tadi namanya ikhtilat, dan haram hukumnya, lantas kalau seorang suami berdua-duaan dengan istrinya juga tidak boleh dong???”

Saya pun tersenyum dan ku katakan kepada mereka, “itulah bedanya. Dalam Islam ada namanya pernikahan yang di ikat dengan janji suci. Sebuah janji yang teramat agung, yang di dalam al Qur’an disebutkan mitsaqan ghalizha, sebuah ikatan janji yang kuat dan kokoh, yang disaksikan oleh wali mereka dan masyarakat. Dengan ikatan itu yang haram menjadi halal. Jadi mau berdua-duaan kek, bertiga-tigaan kek, semuanya sudah menjadi halal dan bahkan suami menyentuh istirnya dengan mesra itu bernilai ibadah.”

“Maka anak-anakku sekalian. Saat ini umur kalian masih remaja. Gunakanlah masamu dengan sebaik-baiknya. Nikmatilah saat-saat terindah di masamu dengan gigih menuntut ilmu, karena kelak apa yang kita lakukan hari ini maka akan kita petik di hari tua nanti. Sudah banyak kejadian disekitar kita, orang-orang mengakhiri masa remajanya dengan melukan hubungan yang tidak pantas dilakukan. Ukirlah prestasi di masa ini, agar kalian tak menyesal di hari tua nanti. Cukuplah Rasulullah sebagai teladan kita sepanjang masa, sepanjang nafas ini masih berhembus.”

“Theettt…. “ Ternyata tak terasa satu jam pelajaran sudah satu jam saya menikmati diskusi dengan para murid. Dan mudah-mudahan mereka memahami dan mampu menilainya sendiri-sendiri.


*Memory 2011. | Menjadi guru itu menyenangkan.
Share:

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar Anda:

HIDANGAN WEB

Recent Comment