Jika "Jodoh" Memang Tertulis

Inilah rahasia yang tersembunyi, tersimpan rapat-rapat sehingga tiada satu pun makhluk di muka bumi yang mengetahui. Ini adalah sebuah misteri yang menguji iman di hati kala ia tak jua kunjung kita temui. Dan inilah bukti kebesaran-Nya meski terkadang menyesakkan diri hingga tak terasa seringkali air mata ini menitik-nitik.
Entah mengapa kadang hati ini pun iri melihat teman-teman kita telah bergandeng tangan dengan belahan hati. Setelah itu mungkin kita mengadu atas gundah gulana yang menerpa hati, "Ya Rabbi, kapankah semua lelahnya penantian ini kan berakhir?". Sujud panjang pun menghiasi malam-malam indah nan sepi. Berharap Dia kan segera menjawab segala bait-bait doa yang terucap.
Hari-hari pun silih berganti. Dan nampaknya Allah belum jua mempertemuan kita dengan yang sudah Dia catat di Lauhul Mahfudz sana. Jika hati telah yakin Allah sudah menulis siapa gerangan yang akan menemani hari-hari kita, tak perlu khawatir, karena Dia pasti akan mempertemukannya dengan kita disaat yang tepat.


Dan semua akan indah .. pada waktunya…*

Selesai kuliah, aku mendapatkan posisi kerja yang sangat menjanjikan. Selama itu juga banyak pria yang mencoba ta’aruf, tapi aku selalu merasa belum bisa ‘klik’ di hati. Kesibukan kerjaku membuatku lupa akan hal itu dan aku terlena, sampai usiaku merambat di empat puluhan, tepatnya empat puluh tiga tahun, dan merasa sudah sangat terlambat untuk menikah.

Pada suatu hari, datang khitbah/lamaran dari seorang pemuda dua tahun diatas usiaku. Pemuda dengan keadaan ekonomi yang sangat lemah dan sangat memprihatinkan, tetapi aku ridho menerimanya dan menerima keadaannya..
Untuk proses pencacatan nikah, ia meminta fotocopy identitas diri.

Dua hari setelah kuserahkan fotocopy identitas diri, ibunya menelponku: aku diminta menemuinya secepatnya.
Aku mendatangi ibunya, kemudian ia mengeluarkan fotocopy identitasku dan bertanya: apakah tanggal lahir yang di KTP ini benar ?
Aku jawab: iya benar.
Kemudian ia berkata: kalau begitu kamu berarti sudah berusia empat puluhan ?
Aku jawab: usia saya sudah empat puluh tiga.
Ia berkata: sama saja, artinya kamu sudah lewat usia tiga puluhan, dan kesempatan untuk bisa punya anak sudah sangat menipis, padahal saya sangat merindukan kehadiran cucu-cucuku ..
Setelah hening sejenak, aku putuskan saat itu juga untuk membatalkan rencana pernikahan diriku dan anaknya…

Enam bulan, waktu itu merupakan saat-saat yang paling sulit dalam hidupku, dengan susah payah aku tetap berusaha tegar. Kemudian kuputuskan untuk pergi umroh. Di rumah Allah aku ingin menghapuskan semua kesedihan dan rasa galau yang sudah memuncak. Aku menuju Ka’bah, kemudian aku duduk menangis, berdoa kepada Allah, berharap dariNya untuk memberiku petunjuk.

Selesai shalat, aku menemukan seorang perempuan membaca al-Quran dengan tilawah yang sangat merdu, dan aku memperhatikan ia mengulang-ulang ayat 113 QS An-Nisa:
وَكَانَ فَضْلُ اللهِ عَلَيْكَ عَظِيْماً
“dan karunia Allah sangat besar atasmu”.

Tidak terasa air mataku mengalir dengan derasnya.

Perempuan ini menarikku kearahnya, kemudian mengulang-ulang ayat 5 QS Adh-Dhuha:
وَلَسَوْفَ يُعْطِيْكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى
“dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu , lalu (hati) kamu menjadi puas”.

Demi Allah, seakan-akan aku baru pertama kali mendengar ayat itu sepanjang hidupku. Jiwaku pun menjadi tenang.

Aku memutuskan untuk segera pulang ke Kairo setelah selesai semua amalan umroh. Di dalam pesawat, aku duduk di samping pemuda, hingga pesawat mendarat di bandara Kairo.

Di ruang kedatangan, aku bertemu dengan suami sahabatku, kemudian kita bertanya tentang keberadaannya disini, ia menjawab: sedang menunggu kedatangan sahabatnya yang pulang dengan pesawat yang sama.
Beberapa menit kemudian, datanglah yang ditunggu oleh suami sahabatku, dan ternyata ia adalah seorang pemuda yang duduk di sampingku ketika di pesawat. Kemudian aku meninggalkan bandara bersama ayahku.

Begitu sampai rumah, baru saja aku berganti baju dan hendak istirahat sejenak, telpon rumahku berdering, diujung sana sahabatku ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting. Ia berkata: sahabat suaminya sangat tertarik denganku dan ia ingin bertemu denganku dirumahnya malam  ini juga, karena sebaik-baik kebaikan adalah yang tercepat …

Hatiku tak karuan dengan kejutan yang tak disangka-sangka .
Aku minta pendapat ayahku tentang yang dikatakan oleh suami sahabatku, beliau memberiku semangat untuk mengunjungi sahabatku, smoga Allah menjadikan untukku jalan keluar ..
Kemudian aku berkunjung kerumah sahabatku, sesuai dengan permintaannya ..

Selang beberapa hari, pemuda ini datang melamarku ..
Dan belum genap satu setengah bulan setelah pertemuan itu, kita sudah melaksanakan akad nikah. Hatiku dipenuhi harapan kebahagiaan..

Aku memulai hidup berumah tangga dengan penuh bahagia dan suka cita. Semua karakter yang kuimpikan dari suamiku, semuanya ada pada dirinya. Ia yang membuat diriku merasa nyaman disampingnya, penuh cinta kasih, sangat mulia, pemurah, berbakti kepada keluarganya dan keluargaku..

Beberapa bulan telah berlalu, sementara belum kutemui tanda-tanda kehamilan. Aku merasa galau, apalagi usiaku sudah lama melewati batas aman untuk hamil dan melahirkan, yaitu usia tiga puluh enam tahun. Aku meminta izin suamiku untuk menjalani pemeriksaan medis, khawatir aku benar-benar kehilangan kesempatan untuk melahirkan anak ..

Kita menuju dokter kandungan yang terkenal, kemudian mulailah dokter menyarankan dengan berbagai macam urutan cek yang harus kujalani. Saat menerima hasil cek yang pertama, aku dikejutkan dengan ucapan dokter ini, bahwa cek berikutnya tidak perlu dijalani, karena … barakallah (berkah Allah) untukmu nyonya, karena kau sudah hamil…

Beberapa bulan kehamilan berlalu dengan selamat, walaupun aku merasakan keluhan yang berlebih karena sebab usiaku. Aku berusaha untuk tidak ingin mengetahui jenis kelamin sang bayi yang kukandung, karena setiap yang diberikan Rabbku adalah kebaikan dan keutamaan dariNya. Setiap aku mengadukan yang kurasakan kepada dokterku, dan juga besarnya ukuran perutku dari kehamilan biasanya, dokter menjelaskan kepadaku bahwa ini adalah efek dari terlambatnya usia mengandung dari usia tiga puluh enam tahun.

Datanglah saat keajaiban yang ditunggu-tunggu, dan kelahiranpun berhasil kulewati. Saat aku sadar, aku memasuki ruang dokter, ia tersenyum melihatku, sambil bertanya tentang jenis kelamin yang kuharapkan dari anak yang kulahirkan. Aku menjawab: aku berharap dari Allah seorang anak saja, dan tidak penting bagiku jenis kelaminnya. Kemudian aku dikejutkan dengan perkataannya:

Jika begitu, apa pendapatmu jika kau memiliki Hasan, Husain dan Fatimah ?!

Aku tidak faham maksud perkataannya, lalu kutanyakan kepadanya apa maksudmu ?

Maka ia memintaku untuk tenang, tidak panik, tidak tegang…

Sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala sudah memberiku 3 anak sekaligus. Seakan-akan Allah berkehendak dariku untuk melahirkan sekaligus di akhir kesempatanku di ujung usia produktifku.

Dan sesungguhnya dokterku sudah mengetahui dariku sejak awal kehamilan, bahwa aku hamil bayi kembar, tetapi dengan sengaja tidak memberitahuku biar aku tidak tegang dan tidak panik saat hamil.

Aku menangis, dan kulantunkan ayat 5 QS Adh-Dhuha:
وَلَسَوْفَ يُعْطِيْكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى
“dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu , lalu (hati) kamu menjadi puas”.

Maha Benar Allah yang telah berfirman dalam QS Ath-Thur: 48:
وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإنَّكَ بِأعْيُنِنَا
“dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami”.


*dari kisah nyata seorang akhwat yang terlambat menikah ..
Share:

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar Anda:

HIDANGAN WEB

Recent Comment