Bidukpun Berlayar Mengarungi Kehidupan

Biduk masih berlayar
Kita selalu bersama
Arungi lautan kehidupan ini
....


Sudah setahun lebih kita menjalani hidup ini bersama. Ada senyum, ada tawa terlebih ada cinta yang kita bangun bersama. Setelah aqad, 29 April 2012 yang lalu, kita berharap bisa menjani hidup ini dengan saling melengkapi, merawat cinta ini agar berkekalan abadi hingga ke Surga nanti.
Masih teringat jelas kala ta'aruf dulu. Aku diminta Murobbi membacakan ayat-ayat Al Qur'an. Entah mengapa waktu itu aku memilih surah An-Nisa, ayat yang berbicara tentang pernikahan. Setelah itu barulah pengantar dari para Guru kita. Disana ada ungkapan yang membuatku terhanyut dalam renungan; "semoga ta'aruf ini adalah ta'aruf yang pertama dan terakhir." Ku renungi pesan ini, hingga timbulah argumen bahwa memang sejak awal guru-guru kita sudah mengajarkan do'a untuk kelanggengan cinta sampai Allah mempertemukan kita lagi di Surga-Nya.
Entah mengapa guru-guru kita itu juga bilang, "kalian adalah pasangan yang langka. Ta'arufnya mudah dan pernikahannya juga cepat." Semoga ini adalah wujud dari setiap ikhtiar kita semasa masih hidup sendiri. Dan ku yakin karena itu juga berkat pengetahuanmu tentang agama, sehingga engkau begitu cepat mengambil keputusan untuk melanjutkan dan melangkah menuju pernikahan. Tak tau jua kenapa aku tak berpikir-pikir dan menimbang tentang kriteria. Kala itu ku pasrahkan saja dengan-Nya yang menggenggam hati ini. Jika dibilang 'siap', sebenarnya waktu itu aku belum siap. Baik secara mental apalagi dari segi ekonomi, sama sekali belum punya tabungan. Namun aku ucapkan 'Bismillah' ketika memberi balasan ke Murobbi bahwa orang tuaku sudah menyetujui. Sehingga tak ada kata lagi untuk mengundurnya, yang ada hanya aku siap melanjutkannya. Dan alhamdulillah, tak disangka Allah memberikan kemudahan, mulai dari mengkhitbah, membeli mahar, dan yang lainnya.

Syukurku pada Tuhan
Atas sunnah-Nya
Ikatan suci diantara kita
Ingatkan kebenaran dan kesabaran
Menuju cinta Ilahi yang hakiki
.....

Teriring syukur, Allah memberikan pendamping hidup yang tepat. Aku sendiri tidak menyangka bisa mendapatkan wanita sepertimu. Saat melihat dan membaca biodatamu, engkau orang yang memang langka dikalangan ikhwah kita yang lain. Begitulah ungkapan yang juga dilontarkan gurumu waktu memperkenalkannya kepadaku. Engkau yang lugu seperti kekanak-kanakan. Engkau yang cerdas dan bertekad untuk menjadi hafidzah, penghafal qur'an. Mungkin itulah yang memang jarang di temui dari kondisi ikhwah sekarang ini. Sebenarnya aku sendiri merasa tak pantas jika bersanding dengan sosok penghafal qur'an. Seakan seperti bintang dan rembulan. Ya, engkau menjadi sosok rembulan yang sinarnya jauh lebih terang daripada bintang. Ah, mungkin aku tak bintang, barangkali malah bak galaksi kecil dan teramat kecil yang tak mempunyai pancaran dan arti keberadaannya. Tapi, ternyata takdir telah mempertemukan kita yang sejak lama telah Allah simpan rapat-rapat sehingga tak ada satu pun makhluk di muka bumi ini yang mengetahuinya bahwa Allah mempertemukan kita waktu itu. Barangkali memang Allah punya rencana yang terbaik, khususnya untukku, agar galaksi teramat kecil itu mendapatkan sinar cahaya rembulan.

Detik terus berlalu kita semakin mengerti
Jalani lintasan kehidupan ini

tiada terbilang sudah hembusan peristiwa
telah kita lalui penuh kesejukan....

Hari-hari pun terus berjalan dan berlalu seiring dengan rentangan waktu. Kita pun mulai saling memahami, meski belum sempurna pemahaman ini. Engkau yang tak pernah meninggalkan shalat tahajud dan dhuha, engkau yang selalu berkata sopan, engkau yang memintaku untuk selalu berjamaah di masjid, engkau yang selalu mendoakan setiap langkahku, engkau yang cerdas, engkau yang selalu menciumku sebelum tidur, engkau yang selalu banyak mencurahkan waktu dan kasih sayang untukku. Sehingga kala aku sok sibuk kadang engkau mengadu 'kenapa kanda sekarang berkurang perhatiannya dengan dinda'. Sungguh, curahan kasih sayang dan cintamu kepadaku barangkali lebih besar daripada kasih sayang dan cintaku kepadamu. Maafkan aku Dindaku. Aku memang baru belajar menyayangi dan mencintai, banyak kekurangan sana dan sini. Semoga hari-hari ke depan nanti aku lebih memahami lagi tentang makna kasih sayang dan arti cinta. Hingga kita temukan cinta kita kan seperti mentari bening di waktu pagi, yang menyinari bumi, menyinari hati. Menjadi keheningan malam kala berjuta insan terlarut dalam do'a.

Ku berdo'a selalu disetiap waktu
Semoga ini berlanjut hingga akhir nanti
Berharap engkaulah bidadariku
Dalam naungan yang penuh akan ridho-Nya.




Hingga akhirnya ku berharap, Allah sentiasa menjaga cinta kita disetiap waktu, menyem-purnakan cinta kita hingga kekal sampai ke Surga.
Share:

1 komentar:

  1. ngiri kang baca nya :)
    TOP lah kisahnya,,,sangat menginspirasi dan tentunya bikin iri,,hehehe
    Deny

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan komentar Anda:

HIDANGAN WEB

Recent Comment