Nyanyian Rinduku (Part 2)


Kebahagiaan sebenarnya adalah ketika kita bisa mempersembahkan yang terbaik. Dan disamping kelemahan setiap orang memiliki kelebihan tersendiri. Sejak kecil memang saya agak sulit menghafal al Qur’an dibanding teman-teman yang lain seusia saya. Apalagi menghafal, sekedar baca al Qur’an agar bener saja, saya memang terkesan sulit.

Suatu hari, ketika saya diijinkan orang tua untuk ikut ngaji, ba’da sholat subuh saya dan teman-teman sudah beraksi mengambil sepeda di rumah masing-masing untuk lebih dulu tiba di “mushola”. Yah, siapa yang cepat, pasti dapat. Sekitar 15 orang yang ikut ngaji, bersama seorang guru yang cukup tua. Ada ciri khas ketika beliau mengajar, “SABAR”. Beliau memang orang yang begituuu sabar. (U-nya sebenarnya nggak cuma 3, biar ngirit saja ^_^ ). Saya dan salah satu teman saya, “Amin” lebih memilih jalan kaki supaya lebih sehat, meski nanti ngajinya diurutan yang terakhir, tapi nggak masalah. Ternyata lama kelamaan ada yang ikut jalan kaki juga. Dan semakin lama semakin banyak yang jalan kaki. Hmm… ternyata nggak cuma nyepeda saja untuk beradu mencari tempat duduk di depan. Jalan kaki pun juga. 20 meter dari mushola, kami ber-delapan sudah cari posisi untuk lari cepat-cepatan cari tempat duduk. Sempat heran juga kenapa teman-teman saya saling beradu tempat duduk. Ternyata setelah selidik demi selidik, pertama memang ingin berjajar dengan cucunya sang guru yang cantik nan jelita, yang juga ikut ngaji. Kedua, setelah ngaji punya banyak kesempatan untuk ngobrol dengan teman-teman sekaligus nongkrong di samping mushola, sembari lihat-lihat orang yang jalan. Tapi dari dulu saya memang kebagian tempat yang terbelakang.
Pernah suatu ketika, saat pelajaran tajwid, saya salah-salah terus ngucapnya, hingga tiba-tiba tanpa terasa saya menitikkan air mata, (waduh cengeng) karena guru saya agak marah. Tapi marahnya marah dengan kesabaran (nhu bagaimana coba?). Teman-teman saya pun sudah berteriak-teriak dari luar mushola, “Cepatan… kok lama sekali. Sudah siang.” Memang kalau sudah jam 6.30 teman-teman sudah pada ribut untuk segera mandi. Akhirnya guru saya pun mengakhiri pelajarannya sembari berpesan kepada saya, “diulang-ulangi lagi pelajarannya. Ilmu itu adalah mengulang.”
Pulang sekolah, biasanya saya dan Amin (teman semeja SD), pergi ke sendang (tempat pamandian umum). Kalau ke sendang biasanya kami sering ketemu dengan guru kami, Pak Mashur. Beliau kesehariannya bekerja menggarap kebunnya yang begitu luas. Kadang kami sering diberi nasihat-nasihat, kala bertemu dengan beliau dikebunnya. Tapi saya lebih sering bertemu dengan beliau saat saya mandi sendirian di sendang, dan kebetulan beliau pas pulang dari kebunnya. Beliau banyak memberikan nasihat kepada saya, “Nak, tuntutlah ilmu setinggi-tingginya. Tapi antara ilmu pengetahuan dan agama harus kamu imbangkan. Agama tanpa ilmu pengetahuan berarti buta. Dan pengetahuan tanpa agama berarti pincang. Kamu tidak ingin buta atau pincang kan?” Yah itulah Pak Mashur, sosok guru yang saya anggap bijak dan sabar.
Hari-hari pun terus berlalu. Dan usiaku semakin muda. Tak lama lagi saya menyelesaikan S3 alias (SMA). Di usia inilah saya dikenalkan salah satu organisasi islam oleh tetangga, Ahmad, yang kebetulan adik kelas saya. Sebagai ketua Remaja Masjid (Risma), saya diajak sharing dengannya bagaimana agar bisa memajukan Risma. Terutama bagaimana agar anggota Risma mempunyai semangat dalam menuntut ilmu. Selama ini memang Risma terkesan lebih senang bersholawatan alias rebana, tapi semangat ngajinya berkurang. Kemudian kami membuat program “bina remaja”, dengan materi fiqih, pasholatan, taklim dan tajwid. Barangkali memang seusia saya dan teman-teman waktu itu lagi senang-senangnya begadang dan kluyuran. Ternyata program itu cuma direspon beberapa anggota Risma. Hingga Alhamdulillah bisa terbentuk madrasah tersendiri dengan menempati gedung TPA. Selang beberapa bulan program itu tak berjalan dengan lancar, kemudian teman saya Ahmad mengusulkan untuk membuat program “mentoring”. Ah… apa artinya mentoring saya juga belum tau. Asal baik saya iya-kan saja. Dan beberapa orang Alhamdulillah mau mengikutinya. Disitu kami dikenalkan dengan materi ma’rifatullah dan tematik lainnya. Cuma dua bulanan program ini berjalan, karena saya harus hijrah ke kota Berseri untuk menimba ilmu. Secara formal maka kepengurusan dan program Risma ada yang dirubah.
Di akhir tahun 2004,…
Suka dan derita telah melingkupi sekolah saya. Tepatnya di bulan Juli, hasil kelulusan diumumkan dengan nilai min 4,5. Sebuah nilai yang sebenarnya masih cukup rendah. Tapi dari target kelulusan itu masih ada yang dinyatakan belum lulus. Tapi Alhamdulillah, saya kala itu salah satu orang yang ingin melepaskan status saya. Status sebagai anak sekolah. Saat-saat saya mulai melepaskan seragam “putih abu-abu”. Barangkali tak mudah untuk meninggalkan semua kenangan dan pengalaman yang ku kecam selama 3 tahun dengan seragam itu.
Jika ingin mengenang kelas 1, … saya terkenang dengan salah satu perempuan yang dengan diam-diam mengambil buku catatan matematika saya, hingga saya bingung kepalangan. Baru sebulan ia mengatakan kalau mengambil buku catatan saya di sebuah bus. Wajahnya yang nampak manis perlahan ia mengucapkan; “Hei,… maaf ya, saya sudah ngambil bukumu diam-diam.” Sesekali kulemparkan pandangan saya ke arah yang lain. Pengin marah, tapi apalah daya saya nggak tega, apalagi dengan perempuan. “Kamu mau bunga ini?” ia mengulurkan setangkai bunga. Ah, tapi saya nggak tau itu bunga apa. Kubalikkan lagi pandangan saya kearah perempuan yang memang begitu cantik. Tapi saya Cuma bisa membalas dengan “senyuman” tanpa menerima bunga itu. Dan tiba-tiba para penumpang mulai banyak yang duduk di kursi bus, hingga saya bener-bener tak jadi menerimanya. (Duh,… sial, kenapa saya ga terima bunganya? Padahal dia mempunyai paras yang cantik… Duh ya Allah sampai segitunya saya). Saya memang belum mau menerima bunganya, karena dia adalah wanita yang disukai sahabat saya satu kelas. Kalau saya terima bunganya bisa-bisa kami akan putus persahabatan. Meski saya sendiri dalam hati juga suka. Tapi nggak apalah, yang penting persahabatan. Bagi saya sahabat adalah sebuah anugerah yang terindah. Kala itu saya dan kawan-kawan menamai persahabatan dengan sebutan “Jlager”. Apa itu kepanjangannya? (rahasia dunk ^_^). Boleh disebut juga “kami bersahabat” karena kami satu baris meja, depan sampai belakang. Jika ada PR, maka kami harus bisa kerjasama, tergantung kompetensi masing-masing. Sering kami juga berbagi jajanan, kadang main bersama…. (hmm… sulit untuk diungkapkan…he2). Itulah saat-saat kelas 1 saya di salah satu Madrasah Aliyah Sragen.
Kalau mengenang kelas 2,… hmm, inilah masa-masa yang menyedihkan. Sekolah serasa sebagai tempat penyiksaan. Ketemu dengan teman-teman yang “nakal”, para geng-geng yang mau menang sendiri. Pokoknya kelas saya di juluki kelas “the genk”, karena banyak yang ikut pencak silat. Suatu hari, karena postur tubuh saya yang nggak begitu besar, saya di suruh nyatetkan tugas salah satu geng di kelas saya. Dan saya pun menolaknya. “Enaknya sekolah nggak mau nulis. Emang sekolahnya simbahmu apa?” begitu pikir saya dalam hati. Dia pun marah dengan saya, sampai ngajak berantem di luar. Karena waktu itu sudah bel istirahat, akhirnya saya segera ke masjid sekolah untuk melaksanakan sholat dzuhur. (Dia memang anak yang nakal, maka dia se-geng lebih memilih jajan keluar dari pada sholat). Tapi sebelum dia keluar kelas dia bilang ke saya “nanti kamu akan saya buat opname”. Dalam hati ada rasa takut jika masuk kelas saya langsung dikeroyok sama geng-nya. Dikelas itu saya belum punya sahabat, karena di kelas dua kami dipisahkan dari teman-teman sewaktu kelas satu. Selasai dzuhur, kupanjatkan doa kehadirat-Nya. Dia-lah yang menciptakan kehidupan dan kematian. Semoga Dia selalu menolong hamba-Nya yang berserah diri. Bel masuk pun berbunyi. Rasa takut masuk kelas pun semakin menghantui. Ternyata benar baru saja duduk di kursi dia langsung mukul dada saya dengan sangat keras. Tapi allahu’alam, saya tidak merasakan apa-apa dari pukulan itu. Bahkan sedikit pun sakit tidak saya rasakan. Teman-teman saya sekelas cuma diam melihat kejadian itu. (hmmm… ternyata Allah memang benar-benar menolong saya). Sampai suatu ketika saat kelas sedang kosong, dia meminta maaf kepada saya dan ingin bersahabat dengan saya. Yah, itulah kenangan di kelas 2, yang menjadikan saya tidak bisa menikmati sekolah selayaknya kelas 1 dulu. Meski saya di juluki “murid kesayangan” beberapa guru mapel, tapi kalau tinggal bersama geng-geng, serasa sekolah sebagai tempat yang menyebalkan.
Tibalah saya naik di kelas 3,…. Masa-masa yang beda lagi dikelas 1 dan 2. 80 % di kelas adalah anak pondok, yang kelihatan shalih. (Maklum, kala itu di sekolah saya banyak yang luar daerah, dan lebih suka tinggal di pondok pesantren). Kadang sepekan, saya sempatkan 1 atau 2 hari berkunjung di salah satu pondok teman saya. Terkadang juga saya nginap di masjid. Tapi sebelum berangkat sekolah saya harus ijin dulu ke orang tua. Kalau nggak ijin, bakal gempar saya dimarahi. Maklum, kala itu saya belum pegang yang namanya HP bin handphone. Terkenang saya di saat-saat liburan, Ahmad, pencetus program mentoring Risma, ngajak saya ke kajian. Mumpung liburan, saya terima ajakan itu. Barangkali bukan sekedar kajian, tapi lebih pada sosialisasi sebuah parpol. Dalam hati pun bertanya, kenapa teman saya bisa ngajak saya kesini? Sesekali saya lihat ruangan kajian itu. Dibelakang saya ternyata ada pembatas antara putra dan putri. Ada pesan dari seorang ustadz yang menggetarkan hati saya, “usia kalian sudah dibilang pantas. Dan kalian sudah mempunyai hak pilih. Maka pakailah hak kalian untuk memikirkan bangsa ini. Kalian adalah generasi yang dinanti, yang ditunggu bangsa ini.” Sejenak saya terpaku, memang selama ini nggak pernah sama sekali terbesit untuk memikirkan bangsa ini. Bangsa ini kayak apa keadaanya saya juga nggak ngerti. Selama ini saya cuma sekolah, dan belajar. (mm… barangkali nilai nasionalisme saya masih minim). Pagi hari saat berangkat sekolah, seperti biasa turun dari bus, saya lebih memilih jalan kaki sekitar 2 kilometer untuk bisa nyampe di sekolah. Disamping sehat, bisa dipakai untuk ngobrol sambil menyapa orang-orang disekitar. Saat kebetulan saya lagi jalan sendirian, tiba-tiba disamping saya ada seorang perempuan yang menyapa saya “assalamu’alaikum”.
Segera saya alihkan padangan saya ke arahnya seraya menjawab “wa’alaikumsalam.”
Dia pun segera berkata “mas yang kemarin ikut pertemuan di aula itu ya?”
Kontan saya jawab “Iya. Kok tau?”.
“Kemarin sempat lihat saja. Saya juga ikut di acara itu kok” selanya kepada saya. “Oh ya, ini ada stiker. Mas mau nggak?” Dia mengeluarkan beberapa stiker parpol yang saya nilai memang kreatif (Cocok bagi anak muda gitu). Apalagi saya memang orang yang suka desain bin seni. Belum lama saya lihat-lihat stiker itu dia menyela lagi “kalau mas mau, ambil saja semuanya. Itu yang ngasih kakak saya yang ada Solo.” Hmm… yah, namanya pemberian seseorang sekecil apapun sudah selayaknya saya terima sebagai bentuk “menghargai” pemberian tersebut. Dan tak lupa saya mengucapkan “terima kasih” kepadanya. Kemudian kami saling berkenalan. Ternyata dia masih kelas 2 di salah satu SMA Islam Swasta dekat sekolah saya. Meski arah sekolah kami sama, tapi selama 2 tahun kami belum saling mengenal.
(Itu kenangan saat-saat duduk di SMA. Sebenarnya masih banyak lagi, mulai dari yang senang, sedih, manis, pahit_kayak buah saja_he..he..).
Ketika detik-detik pengumuman telah selesai, saya langsung diajak Ayah saya ke Solo untuk mendaftarkan diri di salah satu universitas ternama di Kota Berseri. Nampaknya memang bukan jodoh saya untuk bisa kuliah di universitas yang banyak diminati. Dan kemudian saya pun mendaftarkan ke sebuah Lembaga Pendidikan Multi Profesi 1 tahun, yang dulu lebih disebut Diploma 1, yang juga berada di kawasan kota Berseri. Di kampus ini saya memang pantas bersyukur. Kampus yang bernuansa Islam menjadikan saya lebih nyaman untuk bergaul dengan siapa saja.
Pikir-pikir ketika beberapa bulan menikmati kuliah, saya kangen dengan namanya “mentoring” yang sempat saya ikuti sewaktu di Risma. Akhirnya saya sempatkan tiap sore untuk silaturahim ke salah satu kantor organisasi politik yang Alhamdulillah letaknya juga nggak terlalu jauh dari kampus saya. Ketika tiba disana saya disambut begitu hangat, serasa seperti sudah saling mengenal. Kemudian saya utarakan maksud dan tujuan saya (kayak melamar pekerjaan saja, he2), dan saya di suruh nunggu satu minggu untuk dicarikan “mentor”. Satu minggu saya datang lagi ke kantor itu, tapi Cuma di kasih jawaban “Maaf ternyata belum ketemu.” Kemudian saya di suruh nunggu lagi selama satu minggu. Seminggu pun tiba, dan saya masih dikasih jawaban “maaf, ternyata belum ketemu”. Kemudian saya dimintai nomer HP, jika sewaktu-waktu sudah ada saya akan dikabari. Tapi, apa boleh buat, waktu itu saya belum pegang yang namanya HP. Dan saya di suruh datang beberapa hari lagi. Perasaan kesal? Pasti ada lah. Tapi kekesalan itu saya lampiaskan untuk memenuhi ajakan teman saya ikut kajian di salah satu tempat. Disana banyak orang yang berduyun-duyun, ada yang jalan kaki, bersepeda dan motoran. Mereka datang dari berbagai daerah, hanya untuk mengikuti ceramah salah satu guru yang boleh di sebut dengan “syeikh”. Hati saya pun merasa tenteram melihat pemandangan-pemandangan itu. Pertama, memang yang saya datangi adalah sebuah “pondok pesantren”, (keinginan saya dari kecil yang belum terwujud adalah menimba ilmu di pondok pesantren). Kedua, semangat yang begitu membara untuk bisa saling ketemu. Dalam hati saya hanya bisa mengucap “subhanallah”. Tapi di sisi lain saya paling telihat aneh sendiri, karena orang-orang yang datang ke situ pakai jubah semua, termasuk teman saya. Cuma saya yang pakai celana panjang dan baju koko yang bisa dikatakan sudah kekecilan. Apalagi ketika perlahan saya jalan bareng teman saya, sembari menunduk ke bawah, tiba-tiba di depan saya ada 3 orang perempuan dengan pakaian serba hitam, jilbabnya besar, hanya kelihatan mata saja. Kontan saya kaget dan mengucap “astaghfirullahal ‘azdim”. Teman saya pun sedikit tertawa dengan sikap saya. (Yah, dari lahir nyampe usia saat itu, baru pertama kali saya melihat perempuan bercadar…. Ndeso, ndeso tenan saya). Kemudian teman saya dengan gaya khasnya yang penyabar menerangkan saya tentang pakaian wanita yang benar menurut syariat Islam. Saya pun Cuma manggut-manggut, dan insyaallah lebih paham.
Sebulan lebih berlalu, nampaknya kerinduan untuk bisa ikut mentoring hadir kembali. Saya pun kemudian pergi ke kantor itu lagi. Dan Alhamdulillah ternyata jawabannya sudah beda dari yang sebelumnya. Di sana saya langsung di suruh ikut mentoring malam Rabu.
Malam Rabu pun datang, meski gerimis mengundang (ngutip judul lagunya Iklim ^_^), tak mengurangi sedikit pun niatan untuk bisa ikut mentoring meski harus jalan kaki. Tibalah saya dikantor itu. Kali ini bukan sekedar silaturahim, tapi saya ingin menikmati saat-saat mentoring di Risma dulu. Acara pun dimulai. Wajah yang masih muda-muda, menjadikan saya merasa berada di sebuah sketsa kehidupan. Karena muda-muda semua, sayapun belum tau yang jadi mentor saya yang mana. Kemudian sebelum dilanjutkan ke materi, adalah saat berkenalan. Yah, karena ada tambahan orang baru yang akan bersama mereka. Salah seorang mereka berkata kepada saya “Mas, mau bergabung di halaqah ini?” Alis saya sedikit menggerut, tanda saya sedikit kaget, “maaf sebenarnya saya ingin ikut mentoring, bukan halaqah” jawabku kepadanya. Kemudian dia tersenyum sembari perlahan memahamkan saya, “Mentoring atau halaqah atau liqo sama saja. Cuma sebutannya yang berbeda.” Hmmm…. Saya pun kemudian tersenyum malu, bahkan teman-teman yang saat itu melingkar bersama saya juga tersenyum-senyum. (Jan,jan saya ini gimana sih? wkwkwk). Setelah beberapa kali saya aktif “liqo” yang sekarang saya sebut, saya mulai memahami kata-kata akhy, ukhty, antum, afwan, dan belajar bagaimana bergaul sesama muslim, berakhlak yang baik, dsb. Tak hanya itu, saya merasakan nikmatnya berukhuwah dalam lingkaran yg bernama halaqah, terkadang rasa cinta saya kepada mereka melebihi saudara kandung saya sendiri. Hingga akhirnya, suatu hari salah satu teman saya yang pernah ngajak saya kajian di pondok, sempat marah atas aktivitas saya. Tapi saya kira, marahnya karena cinta. Yah, karena saya sudah tidak lagi ikut kajian dengannya, barangkali membuat teman saya kecewa. (Maafkan saya ya kawan). Mungkin inilah jalan saya.
Setelah sekitar 7 tahun tinggal di Kota Berseri, ketika pulang ke kampung halaman serasa saya menjadi orang asing dimata tetangga dan teman-teman sebaya saya. Barangkali karena celana saya yang terkesan cingkrang, atau jenggot tipis yang menghiasi wajah saya, atau yang lainnya yang memang bagi mereka aneh. Ada beberapa tetangga saya yang bilang kalau saya ikut aliran ini dan itu. Tapi Alhamdulillah lama kelamaan mereka mulai memahami. Tak lepas dari hal itu, masih ada yang menggeleyut di hati saya, ketika teman-teman sebaya saya malah jauh sifat dan karakter mereka sewaktu kecil. Yah, karakter madrasah dan pesantren yang pandai ngaji, kini semakin lama semakin memudar. Apalagi ada beberapa yang melakukan hubungan di luar nikah. HIngga ketika kita bertemu, sudah tak semesra lagi seperti dulu. Entah mengapa, semua ini terjadi. Apa mungkin karena kita lama tidak ketemu, hingga malu untuk saling bertanya kabar? Atau mungkin perubahan-perubahan yang berbeda diantara kita.
Maka kawan-kawanku…
Ku dendangkan syair ini untuk mengenang kebersamaan kita sewaktu kecil. Saat-saat indahnya kita mengaji bersama, bermain bersama….
Termenung diri ini semalam
Dalam sujudku di hadapan-Mu
Terkenang masa kecil dahulu
Berbalut cinta kasih dan sayang
Seakan dunia tiada berduka
Menemani hari hatiku ini
Namun semua kini telah berlalu
Kan terbungkus selalu dalam kenangku…
Indah suasana di waktu itu
Kala bersama dalam ukhuwah
Merajut cinta yang lama terpisah
Dalam sentuhan hati yang belum ternoda….
Ingin kurasakan manisnya iman
Saat jiwa ini bersama denganmu
Ingin kurasakan indahnya ukhuwah
Saat diri ini bertemu denganmu
Jangan pernah lupakan masa kecil dulu
Jadikanlah kenangan di dalam hidupmu…
(Renungan Sunyi – Al Maidany)

Share:

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar Anda:

HIDANGAN WEB

Recent Comment