Nyanyian Rinduku (Part 1)

Termenung diri ini semalam
Dalam sujudku dihadapan-MU
Terkanang masa kecil dahulu
Berbalut cinta kasih dan sayang…
(al Maidany – Renungan Sunyi)


Sudah hampir empat bulan ini, tiap hari senin dan selasa saya gunakan untuk pulang ke rumah orang tua di Sragen. Kota kelahiran yang menyimpan banyak memori indah. Tapi beberapa minggu ini, kadang saya cuma sempat sekali saja dalam seminggu bisa berteduh di rumah yang bagiku indah, bahkan kadang tidak sama sekali karena beberapa agenda yang harus saya ikuti. Sekitar delapan tahun tinggal di kota Berseri, nampaknya membawa saya dipercaya untuk memegang 5 amanah di beberapa organisasi. (Wah, kira-kira sedikit atau banyak ya?). Bagi saya “amanah tidak perlu dicari-cari, tapi ketika diberi amanah hendaklah serius dalam menjalani” begitulah kata guru saya. Yah, dengan semakin banyaknya amanah, berarti semakin besar peluang saya untuk beramal, meski kadang harus mengesampingkan kuliah. Terkadang orang tua bertanya “kapan kamu lulus?”, tapi itu tak sering terlontar. Yang sering terlontar justru “kenapa jarang pulang?”. Biasanya seminggu pulang dua kali, pasti kalau tidak pulang ditanyai. Hmm, nampaknya sejak saya pindah profesi menjadi guru, terlebih jaraknya tidak begitu jauh dengan rumah orang tua (sekitar 20 menitan lah perjalanannya) nampaknya ibu pengin tiap pekan sekali saya bisa pulang ke rumah.
Hari ini, selesai mengawasi MID semester, saya sudah berniat untuk singgah di gubuk orang tua. Meski tak semegah istana, bagiku rumah mungil ini melahirkan besarnya cinta. Beruntung saya dilahirkan dari keluarga, yang menurut saya baik. Meski kehidupan cukup sederhana, tapi dari kesederhanaan inilah saya merasa ada berjuta makna. Kasih sayang ibunda, gelak tawa ayahanda, senyuman saudara-saudara saya, yang membuat saya selalu rindu kala saya jauh dari mereka. Menangis… yah, kalau sedang mengingat-ingat keluarga di rumah, suadara-saudara saya, kenangan-kenangan bersama mereka saya bisa nangis, meski saya seorang rijal. Apalagi kalau pas sendiri di kost, saya lebih senang merenung, mengenang memori-memori silam. (astaghfirullah, kenapa ya bisa begitu? Bukankah yang berlalu biar berlalu?...hmmmm).

Panas mentari yang menyengat, menemani lajuku menuju gubuk orang tua. Perjalanan dari Gemolong ke Tanon tak seramai perjalanan Gemolong ke Solo. Kunikmati perjalanan ini sembari menghayati alam. (waduh, mungkin itulah karakter yang tidak bisa hilang dari saya. Senang menghayati alam dan tiap kejadian. Orang bilang saya tipe “melankolis”). Sehingga perjalanan pulang serasa begitu terlihat cepat.
Tiba di gubuk tercinta, rasanya ingin segera merebahkan diri untuk istirahat di kamar. Tapi, kalau sudah ada keponakan saya, hmm… bisa jadi capek hilang. Melihat lucu-lucunya ia mulai berjalan, membuat saya senang menemaninya. Tak lupa saya keluarkan jurus jitu agar ia segera mau bermain dengan saya. Yah, membawakannya oleh-oleh, meski cuma sekedar jelly dan coklat. Hingga adik saya yang paling kecil menjadi iri, karena dulu saya sering membelikan dia jajanan, tapi sekarang cuma keponakan saya yang saya belikan. Saya ingin menanamkan cinta kepada keluarga saya termasuk keponakan, sebagai wujud terima kasih saya atas jerih payah dan cinta kakak saya yang sudah beliau berikan ke keluarga, termasuk saya. Mengingat kakak saya, jadi mengingat semua pengorbanan besarnya untuk keluarga. Meski dulu sewaktu kami menginjak usia remaja, kami sering bertengkar, dan kadang berantem.
Sore pun menjelang, adzan ashar pun berkumandang…
Kulihat di depan rumah, anak-anak kecil mulai berduyun-duyun memasuki gedung TPA. Saya duduk di kursi teras rumah sembari melihat-lihat gedung TPA yang dulu pernah ku tempati. Di situ saya pernah menuntut ilmu. Disitu pula saya pernah menjadi guru. Kini saya Cuma bisa menikmati pemandangan belajar mengajar TPA. Jadi terkenang masa 15 tahun yang lalu. Lima belas tahun yang lalu, gedung itu belum ada. Saya dan teman-teman sebaya belajar mengaji di TPA memakai serambi masjid. Sekitar 50 santri memadati serambi masjid. Untuk mengatur kelas, karena tidak adanya ruang, para ustadz dan ustadzah cuma memisahkan bagian utara, tengah, dan selatan serambi masjid untuk kelas.
Suatu hari untuk memperingati Milad TPA, para ustadz dan ustadzah bekerjasama dengan ta’mir masjid mengadakan pengajian Akbar dengan 2 mubaligh. Satu mubaligh dari luar, dan 1 mubaligh kecil dari kalangan TPA. Berdebar hati kala salah satu ustadz menunjuk saya dan temen saya untuk mengikuti seleksi menjadi mubaligh kecil yang akan mengisi pengajian Akbar di masjid kami nanti. Kami berdua diberi selembar kertas konsep pidato. Kami diminta untuk mempelajarinya. Beberapa hari saya pelajari materi pidato itu. Tapi, nampaknya hati kecil saya berkata “biarlah teman saya yang ngisi pengajian akbarnya nanti. Saya malu kalau disuruh berdiri didepan umum”, hingga saya berhenti mempelajari selebar materi itu.
Tapi ustadz berkata lain, “kamu yang saya tunjuk mengisi pengajian akbar besok malam?”
“Apa?” kata saya keheranan kepada ustadz. “Saya tidak mempelajari materinya?”
“Kamu kan sudah dua kali meraih juara 1 lomba pidato di TPA ini.” Sangga ustadz saya.
Saya tak bisa berkata apa-apa selain memenuhi keinginannya. Karena di dalam TPA, kami di ikrarkan untuk “taat kepada guru”. Diusiaku yang masih dikatakan kenak-kanakan, terlalu sulit jika harus menghafal naskah pidato itu.
Pengajian pun dimulai. Hatiku semakin berdebar-debar, ketika harus memberikan pidato dihadapan ratusan orang. Ku bawa teks pidato, dan kubaca teks itu untuk memecahkan keteganganku. Paling ustadz akan memarahi, kenapa pidatonya bawa teks. (Maapin aye tadz..). Kalau nama saya di panggil terus nggak naik panggung, wah bisa berabe. Ternyata ustadz tidak demikian marahnya. Beliau malah mensupport saya, “Alhamdulillah jamaah senang mendengar pidatomu. Mereka bangga ada santri TPA yang sudah bisa berpidato dengan baik di hadapan ratusan orang meski baca. (wah, ternyata saya jadi kagum pada diri saya sendiri. Astaghfirullah, bukankah itu nggak boleh).
Haripun terus berlalu, hingga saya naik di kelas 4, boleh di bilang kelas teratas di TPA-saya. Ada pengumuman dari ustadz saya, “dua minggu lagi akan ada lomba antar TPA se-Kecamatan. Ada 4 lomba yang akan di selenggarakan, lomba qiroah, CCQ, hafalan dan pidato.” Kembali ustadz saya menawarkan agar saya mengikut lomba pidato. Sejenak saya berpikir. Se-Kecamatan, berarti akan ada sekitar 40 peserta yang akan mengikuti lomba. Dengan mengucapkan “Bismillah” saya terima tawaran ustadz untuk mendaftarkan saya di lomba pidato. Belajar dari pengalaman saya mengisi pengajian akbar, saya harus yakin bahwa saya pasti bisa.
Pagi itu, kala suasana masih terlihat sepi, saya sudah bangun. Kulihat jam tangan disamping saya, menunjukkan jam 04.15. Sebentar lagi adzan subuh akan berkumandang. Segera saya berjanjak dari tempat tidur. Berisap diri untuk adzan di masjid yang letaknya cuma 10-an langkah dari depan rumahku.
Terlihat anak-anak se-usiaku masih terlelap di serambi masjid. Yah, kebiasaan anak-anak seusiaku, sehabis ngaji di madrasah pasti tidur di masjid. Cuma saya yang waktu itu tidak diizinkan orang tua ngaji di madrasah, karena orang tua takut kalau saya ngaji di madrasah akan ganggu pelajaran sekolah. Hmm… apa boleh buat, harapan orang tua harus saya turuti sebagai bentuk birrul walidain. Pernah suatu kali saya nekat ikut ngaji, eh…. malah dicari-cari ibu saya. Kadang saya berpikir, “apa ibu nggak seneng kalau anaknya baik dan pinter ngaji?”.
Tak lama, sang mentari terbit dengan senyumannya, seolah ia mengucapkan selamat pagi kepada bumi pertiwi. Saya sambut hari ini dengan penuh keyakinan untuk menghadapi segala sesuatu. Hari ini saya akan mengikuti lomba, memperjuangkan nama TPA. Semua santri sudah berkumpul didepan rumah saya untuk persiapan berangkat menuju tempat perlombaan.
“Ayo, kita buktikan siapa diantara kita nanti yang bisa membawa nama baik TPA kita,” ucap lelucon salah satu teman saya.
“Hmm… saya ngalah saja lah. Biar tim CCQ yang bisa membawa nama baik TPA,” balas canda saya kepadanya. Sontak teman-teman yang lain ikut tertawa.
“Ah, kayaknya kita nggak mungkin akan menang. TPA-TPA yang lain pinter-pinter. Lah kita??” kata-kata pesimis yang selalu saja terlontar dari mulut teman-teman saya.
Tiba-tiba ustadz dan ustadzah TPA kami datang, “ayo kita segera berangkat, mobilnya sudah kemari.”
Tiba di ruang lomba, para peserta diperkenalkan para dewan juri. Salah satu juri lomba pidato adalah perwakilan dari Kantor Depag Kota Sragen. Rasa grogi pun mulai merayapi tubuh saya. Beberapa peserta sudah tampil, dengan gaya khasnya yang unik dan menarik. Apalagi saya lihat para dewan juri “manggut-manggu” seperti kagum dengan pidato mereka. Pikir-pikir, saya nggak punya ciri khas dalam berpidato.
Tak lama kemudian nama saya dipanggil. Dengan mengucapkan “Bismillah” saya memulai lomba itu. Saya sampaikan apa yang saya bisa. Tapi sejenak melihat para peserta yang lain dan dewan juri biasa-biasa saja, seperti tidak ada respon dari pidato saya. Uhgf… saya pasrahkan semua hasil kepada-Nya. Saya sudah memulai pidato ini dengan “bismillah”, saya yakin menang atau kalah pasti itu yang terbaik yang Allah beri.
Dua minggu kemudian, semua TPA se-Kecamatan dikumpulkan lagi. Kali ini para TPA dikumpulkan untuk menikmati alam, boleh dikatakan “tadzabur alam”, menghayati semua ciptaan Tuhan. Dikawasan tempat penyimpanan fosil manusia purba. (sudah ngerti kan?!  ). Tak sekedar melihat-lihat macam-macam fosil, tapi juga sebagai acara pengumuman lomba. Satu persatu lomba dan pemenangnya dibacakan. Mulai dari CCQ, qiroah, hafalan. Sorak-sorak terdengar riang para santri TPA yang memenangkan lomba. Hanya TPA saya saja yang terlihat agak murung karena 3 lomba tak ada satu pun yang bisa kami menangkan. Kini giliran diumumkan pemenang lomba pidato, mulai dari juara 3 dan 2. Semua terdiam, ketika seorang MC akan mengumumkan juara 1 lomba pidato. Tersebutlah nama saya. Kontan teman-teman saya bersorak dengan keras “Yeeeeee!!!”…. Sesekali saya membalas sorak mereka dengan senyum saya. Wah, senangnya saya. Dan inilah sebuah piagam yang masih sempat saya abadikan.
Share:

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar Anda:

HIDANGAN WEB

Recent Comment