BELAJAR MENJADI MUROBBI


JUM'AT, 24 Desember 2010...
Orang-orang banya yang mempersiapkan diri untuk menikmati libur panjang. Langit yang mulai gelap, barangkali akan menambah kebahagiaan mereka untuk menikmati malam-malam yang bebas. Tentu banyak cara untuk menikmati malam liburan.
Dan malam itulah saya dan adik-adik binaan membuat acara Malam Bina Iman dan Taqwa atau yang lebih sering kita sebut Mabit di Masjid Nurul Huda UNS. Acara Mabit sudah saya agendakan bersama adik-adik satu minggu sebelumnya.
Ada salah satu harapan bagi saya ketika mengadakan acara ini, yaitu untuk melatih ruhiyah adik-adik agar selalu dekat dengannya.
Tapi dari sinilah ada sebuah pelajaran yang amat berharga...
Dahulu kala awal-awal saya membina membina, saya takut bila saya belum bisa memberi contoh yang terbaik buat mereka. Karena sosok Murobbi adalah sosok Orang tua, kadang harus bisa jadi teman, kadang juga bisa jadi kakak, tergantung situasi bagaimana kita berada. Dan seribu satu pertanyaan mulai muncul dalam diri saya "apakah saya bisa". Pertanyaan-pertanyaan itu sering kali muncul secara tiba-tiba, hingga kadang saya mulai pesimis untuk membina.
Apalagi ketika pertama kali menghadapi mereka. Banyak hal-hal yang harus saya pelajari. Mereka hadir di liqo saja sungguh sudah luar biasa, apalagi mereka bersedia ikut mabit dengan naik sepeda "onthel" dari daerah Pajang sampai dengan UNS (barangkali kalau diukur ada 20 km) untuk sampai kesana.
Yah, optimis mereka meski harus belajar sabar menghadapinya yang kadang membuat saya serasa menjadi orang yang berharga di mata mereka. Dan seakan ada nuansa kekeluargaan tersendiri.


ARTIKEL TERKAIT:
AADW Voice_nasyid minimalis
Solo in Action
Berbagi Ceria Bersama
Share:

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar Anda:

HIDANGAN WEB

Recent Comment