Betapa Indahnya Berumah Tangga

Karya : Bayu Gautama
tentang_pernikahan. com - Ketika melihat pasangan yang baru menikah,
saya suka tersenyum. Bukan apa-apa, saya hanya ikut merasakan
kebahagiaan yang berbinar spontan dari wajah-wajah syahdu mereka.
Tangan yang saling berkaitan ketika berjalan, tatapan-tatapan penuh
makna, bahkan sirat keengganan saat hendak berpisah. Seorang sahabat
yang tadinya mahal tersenyum, setelah menikah senyumnya selalu saja
mengembang. Ketika saya tanyakan mengapa, singkat dia berujar
"Menikahlah! Nanti juga tahu sendiri". Aih...
Menikah adalah sunnah terbaik dari sunnah yang baik itu yang saya baca
dalam sebuah buku pernikahan. Jadi ketika seseorang menikah, sungguh
ia telah menjalankan sebuah sunnah yang di sukai Nabi. Dalam buku
tersebut dikatakan bahwa Allah hanya menyebut nabi-nabi yang menikah
dalam kitab-Nya. Hal ini menunjukkan betapa Allah menunjukkan
keutamaan pernikahan. Dalam firmannya, "Dan diantara tanda-tanda
kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu
sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan Dia
menjadikan rasa kasih sayang diantaramu. Sesungguhnya pada yang
demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kalian yang
berfikir." (QS. Ar-Rum: 21).
Menikah itu Subhanallah indah, kata Almarhum ayah saya dan hanya bisa
dirasakan oleh yang sudah menjalaninya. Ketika sudah menikah, semuanya
menjadi begitu jelas, alur ibadah suami dan istri. Beliau
mengibaratkan ketika seseorang baru menikah dunia menjadi terang
benderang, saat itu kicauan burung terdengar begitu merdu. Sepoi angin
dimaknai begitu dalam, makanan yang terhidang selalu saja disantap
lezat. Mendung di langit bukan masalah besar. Seolah dunia milik
mereka saja, mengapa? karena semuanya dinikmati berdua. Hidup seperti
seolah baru dimulai, sejarah keluarga baru saja disusun.
Namun sayang tambahnya, semua itu lambat laun menguap ke angkasa
membumbung atau raib ditelan dalamnya bumi. Entahlah saat itu cinta
mereka berpendar ke mana. Seiring detik yang berloncatan, seolah cinta
mereka juga. Banyak dari pasangan yang akhirnya tidak sampai ke
tujuan, tak terhitung pasangan yang terburai kehilangan pegangan,
selanjutnya perahu mereka karam sebelum sempat berlabuh di tepian.
Bercerai, sebuah amalan yang diperbolehkan tapi sangat dibenci Allah.
Ketika Allah menjalinkan perasaan cinta diantara suami istri, sungguh
itu adalah anugerah bertubi yang harus disyukuri. Karena cinta istri
kepada suami berbuah ketaatan untuk selalu menjaga kehormatan diri dan
keluarga. Dan cinta suami kepada istri menetaskan keinginan melindungi
dan membimbingnya sepenuh hati. Lanjutnya kemudian.
Saya jadi ingat, saat itu seorang istri memarahi suaminya
habis-habisan, saya yang berada di sana merasa iba melihat sang suami
yang terdiam. Padahal ia baru saja pulang kantor, peluh masih
membasah, kesegaran pada saat pergi sama sekali tidak nampak,
kelelahan begitu lekat di wajah. Hanya karena masalah kecil, emosi
istri meledak begitu hebat. Saya kira akan terjadi "perang" hingga
bermaksud mengajak anak-anak main di belakang. Tapi ternyata di luar
dugaan, suami malah mendaratkan sun sayang penuh mesra di kening sang
istri. Istrinya yang sedang berapi-api pun padam, senyum malu-malunya
mengembang kemudian dan merdu uaranya bertutur "Maafkan Mama ya Pa..".
Gegas ia raih tangan suami dan mendekatkannya juga ke kening,
rutinitasnya setiap kali suaminya datang.
Jauh setelah kejadian itu, saya bertanya pada sang suami kenapa ia
berbuat demikian. "Saya mencintainya, karena ia istri yang
dianugerahkan Allah, karena ia ibu dari anak-anak. Yah karena saya
mencintainya" demikian jawabannya.
Ibn Qayyim Al-Jauziah seorang ulama besar, menyebutkan bahwa cinta
mempunyai tanda-tanda. Pertama, ketika mereka saling mencintai maka
sekali saja mereka tidak akan pernah saling mengkhianati, Mereka akan
saling setia senantiasa, memberikan semua komitmen mereka.
Kedua, ketika seseorang mencintai, maka dia akan mengutamakan yang
dicintainya, seorang istri akan mengutamakan suami dalam keluarga, dan
seorang suami tentu saja akan mengutamakan istri dalam hal
perlindungan dan nafkahnya. Mereka akan sama-sama saling mengutamakan,
tidak ada yang merasa superior.
Ketiga, ketika mereka saling mencintai maka sedetikpun mereka tidak
akan mau berpisah, lubuk hatinya selalu saling terpaut. Meskipun
secara fisik berjauhan, hati mereka seolah selalu tersambung. Ada do'a
istrinya agar suami selamat dalam perjalanan dan memperoleh sukses
dalam pekerjaan. Ada tengadah jemari istri kepada Allahi supaya suami
selalu dalam perlindunganNya, tidak tergelincir. Juga ada ingatan
suami yang sedang membanting tulang meraup nafkah halal kepada istri
tercinta, sedang apakah gerangan Istrinya, lebih semangatlah ia.
Saudaraku, ketika segala sesuatunya berjalan begitu rumit dalam sebuah
rumah tangga, saat-saat cinta tidak lagi menggunung dan menghilang
seiring persoalan yang datang silih berganti. Perkenankan saya
mengingatkan lagi sebuah hadist nabi. Ada baiknya para istri dan suami
menyelami bulir-bulir nasehat berharga dari Nabi Muhammad. Salah satu
wasiat Rasulullah yang diucapkannya pada saat-saat terakhir
kehidupannya dalam peristiwa haji wada':
"Barang siapa -diantara para suami- bersabar atas perilaku buruk dari
istrinya, maka Allah akan memberinya pahala seperti yang Allah berikan
kepada Ayyub atas kesabarannya menanggung penderitaan. Dan barang
siapa -diantara para istri- bersabar atas perilaku buruk suaminya,
maka Allah akan memberinya pahala seperti yang Allah berikan kepada
Asiah, istri fir'aun" (HR Nasa-iy dan Ibnu Majah ).
Kepada saudaraku yang baru saja menggenapkan setengah dien, Tak ada
salahnya juga untuk saudaraku yang sudah lama mencicipi asam garamnya
pernikahan, Patrikan firman Allah dalam ingatan : "...Mereka (para
istri) adalah pakaian bagi kalian (para suami) dan kalian adalah
pakaian bagi mereka..." (QS. Al-Baqarah:187)
Torehkan hadist ini dalam benak : "Sesungguhnya ketika seorang suami
memperhatikan istrinya dan begitu pula dengan istrinya, maka Allah
memperhatikan mereka dengan penuh rahmat, manakala suaminya rengkuh
telapak tangan istrinya dengan mesra, berguguranlah dosa-dosa suami
istri itu dari sela jemarinya" (Diriwayatkan Maisarah bin Ali dari
Ar-Rafi' dari Abu Sa'id Alkhudzri r.a)
Kepada sahabat yang baru saja membingkai sebuah keluarga, Kepada para
pasutri yang usia rumah tangganya tidak lagi seumur jagung, Ingatlah
ketika suami mengharapkan istri berperilaku seperti Khadijah istri
Nabi, maka suami juga harus meniru perlakukan Nabi Muhammad kepada
para Istrinya. Begitu juga sebaliknya.
Perempuan yang paling mempesona adalah istri yang shalehah, istri yang
ketika suami memandangnya pasti menyejukkan mata, ketika suaminya
menuntunnya kepada kebaikan maka dengan sepenuh hati dia akan
mentaatinya, jua tatkala suami pergi maka dia akan amanah menjaga
harta dan kehormatannya. Istri yang tidak silau dengan gemerlap dunia
melainkan istri yang selalu bergegas merengkuh setiap kemilau ridha suami.
Lelaki yang berpredikat lelaki terbaik adalah suami yang memuliakan
istrinya. Suami yang selalu dan selalu mengukirkan senyuman di wajah
istrinya. Suami yang menjadi qawwam istrinya. Suami yang begitu
tangguh mencarikan nafkah halal untuk keluarga. Suami yang tak lelah
berlemah lembut mengingatkan kesalahan istrinya. Suami yang menjadi
seorang nahkoda kapal keluarga, mengarungi samudera agar selamat
menuju tepian hakiki "Surga". Dia memegang teguh firman Allah, "Wahai
orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api
neraka..." (QS. At-Tahrim: 6)
Akhirya, semuanya mudah-mudah tetap berjalan dengan semestinya. Semua
berlaku sama seperti permulaan. Tidak kurang, tidak juga
berlebihan.Meski riak-riak gelombang mengombang-ambing perahu yang
sedang dikayuh, atau karang begitu gigih berdiri menghalangi biduk
untuk sampai ketepian. Karakter suami istri demikian, Insya Allah
dapat melaluinya dengan hasil baik. Sehingga setiap butir hari yang
bergulir akan tetap indah, fajar di ufuk selalu saja tampak merekah.
Keduanya menghiasi masa dengan kesyukuran, keduanya berbahtera dengan
bekal cinta. Sama seperti syair yang digaungkan Gibran,
Bangun di fajar subuh dengan hati seringan awan
Mensyukuri hari baru penuh sinar kecintaan
Istirahat di terik siang merenungkan puncak getaran cinta
Pulang di kala senja dengan syukur penuh di rongga dada
Kemudian terlena dengan doa bagi yang tercinta dalam sanubari
Dan sebuah nyanyian kesyukuran tersungging di bibir senyuman
Semoga Allah selalu menghimpunkan kalian (yang saling mencintai karena
Allah dalam ikatan halal pernikahan) dalam kebaikan. Mudah-mudahan
Allah yang maha lembut melimpahkan kepada kalian bening saripati
cinta, cinta yang menghangati nafas keluarga, cinta yang
menyelamatkan. Semoga Allah memampukan kalian membingkai keluarga
sakinah, mawaddah, warrahmah.
Semoga Allah mematrikan helai keikhlasan di setiap gerak dalam
keluarga. Jua Allah yang maha menetapkan, mengekalkan ikatan
pernikahan tidak hanya di dunia yang serba fana tapi sampai ke sana,
the real world "Akhirat". Mudah-mudahan kalian selamat mendayung
sampai ketepian.
Allahumma Aamiin.
Barakallahu, untuk para pengantin muda. Mudah-mudahan saya mampu
mengikuti tapak kalian yang begitu berani mengambil sebuah keputusan
besar, yang begitu nyata menandakan ketaqwaan kepada Allah serta
ketaatan kepada sunnah Rasul Pilihan. Mudah-mudahan jika giliran saya
tiba, tak perlu lagi saya bertanya mengapa teman saya menjadi begitu
murah senyum. Karena mungkin saya sudah mampu menemukan jawabannya
sendiri.
Share:

1 komentar:

  1. Subhanallah........,indahnya pernikahan yang didasari cinta karena Allah SWT...., Smoga Allah cepat mempertemukan pasanganku, Allah berikan yang terbaik untukku menurut penilaian-Mu....^_^

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan komentar Anda:

HIDANGAN WEB

Recent Comment