• Menakjubkan Seorang Mukmin Itu...

    Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya

  • Doa Para Malaikat Untuk Orang yang Menunggu Shalat

    Di antara orang yang berbahagia dengan permohonan ampun dan do’a para Malaikat adalah seorang hamba yang duduk di masjid untuk menunggu shalat dalam keadaan berwudhu’

  • Hakikat Kehidupan Duniawi

    Mari kita besepakat, bahwa dunia bukan Surga. Juga bukan neraka. Tabiat Surga adalah memberikan kepada penghuninya kenikmatan dan kesenangan. Tabiat neraka adalah menyiksa dan membinasakan penghuninya dengan cara mengerikan tak terbayangkan. Dunia bukan keduanya.

  • Setetes Manisnya Dunia

    Dunia, begitu indah nan memesona. Kilauanya terkadang bisa membutakan mata. Bukan ke dua mata kita yang bisa melihat segala elok rupanya, tapi mata hati yang bersih nan jernih.

  • Allah yang Menjamin Rizki

    Sesungguhnya Allah menjamin setiap rezeki manusia dan makhluk lainnya. Jaminan tersebut sudah tertulis dalam Al Quran dan Al Hadist baik itu berupa jaminan rezeki yang bersifat materi, kesehatan, kebahagiaan ataupun rezeki berupa keimanan.

Subhanallah, Allah Akan Mengganti Harta yang Kita Infaqkan

Allah Ta'ala berfirman: "...Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya, dan Dialah pemberi rezeqi yang terbaik". (QS. Saba': 39)
Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsirnya tentang ayat tersebut: "Apa saja yang kalian infakkan pada jalan yang Allah perintahkan dan Allah bolehkan bagi kalian, maka niscaya Allah ta'ala akan menggantinya; baik ganti di dunia (dengan serupa atau yang lebih baik), dan di akhirat Allah akan memberikan pahala dan balasan kebaikan.

Sebagaimana dalam hadits qudsi yang tsabit, Allah ta'ala berfirman: "Berinfaklah wahai anak Adam niscaya Aku akan memberikan infak kepadamu..." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits yang lain, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya dalam setiap pagi harinya terdapat dua malaikat yang berjalan, salah satu dari mereka berkata: Ya Allah berilah kepada orang yang menahan hartanya (tidak menginfakkannya) dengan kerusakan (pada hartanya), sedang malaikat yang lainnya berkata: Ya Allah berilah ganti kepada orang yang menginfakkan hartanya". ( HR. Al-Bukhari )"
 
Maka mari jangan ragu untuk mengeluarkan infaq dari harta yang kita miliki, yakinlah bahwa Allah akan memberikan gantinya dengan yang lebih baik, dan sebaik-baik ganti adalah pahala di akhirat kelak yaitu dengan di masukkan kedalam surga-Nya..

Allah Ta'ala berfirman:
"... Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya, dan Dialah pemberi rezeqi yang terbaik". (QS. Saba': 39)
 
Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsirnya tentang ayat tersebut: "Apa saja yang kalian infakkan pada jalan yang Allah perintahkan dan Allah bolehkan bagi kalian, maka niscaya Allah ta'ala akan menggantinya; baik ganti di dunia (dengan serupa atau yang lebih baik), dan di akhirat Allah akan memberikan pahala dan balasan kebaikan.
 
Sebagaimana dalam hadits qudsi yang tsabit, Allah ta'ala berfirman: "Berinfaklah wahai anak Adam niscaya Aku akan memberikan infak kepadamu.." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
 
Dalam hadits yang lain, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya dalam setiap pagi harinya terdapat dua malaikat yang berjalan, salah satu dari mereka berkata: Ya Allah berilah kepada orang yang menahan hartanya (tidak menginfakkannya) dengan kerusakan (pada hartanya), sedang malaikat yang lainnya berkata: Ya Allah berilah ganti kepada orang yang menginfakkan hartanya". ( HR. Al-Bukhari )" 
 
Maka mari jangan ragu untuk mengeluarkan infaq dari harta yang kita miliki, yakinlah bahwa Allah akan memberikan gantinya dengan yang lebih baik, dan sebaik-baik ganti adalah pahala di akhirat kelak yaitu dengan di masukkan kedalam surga-Nya. Aamiin...


Share:

Rahasia Dibalik Dzikir Kita Kepada Allah SWT

“Dzikir kepada allah Ta’ala adalah ibadah terbesar dibandingkan ibadah lainnya,” demikian kata Ibnu Abbas RA
 
Menjelaskan hal ini,  Imam Ghazali dalam kitabnya “Dzikurllah” menulis, “Jika Anda bertanya, kenapa dzikir kepada Allah yang dikerjakan secara samar oleh lisan dan tanpa memerlukan tenaga yang besar menjadi lebih utama dan lebih bermanfaat dibandingkan dengan sejumlah ibadah yang dalam pelaksanaannya banyak mengandung kesulitan?”
Imam Ghazali menjelaskan bahwa dzikir mengharuskan adanya rasa suka dan cinta kepada Allah Ta’ala. Maka tidak akan ada yang mengamalkannya kecuali jiwa yang dipenuhi rasa suka, dan cinta untuk selalu mengingat dan kembali kepada-Nya.
 
Orang yang mencintai sesuatu akan banyak mengingatnya, dan orang yang banyak mengingat sesuatu (meskipun pada mulanya ini adalah bentu pembebanan) pasti akan mencintainya. Begitu halnya dengan orang yang berdzikir kepada Allah Ta’ala.
Apabila seorang Muslim sampai pada derajat suka berdikir, maka ia tidak akan melakukan erbuatan lain selain dzikir kepada Allah Ta’ala. Sesuatu yang selain Allah adalah sesuatu yang pasti meninggalkannya saat kematian menjemput. Nah, di sinilah urgensi mengapa setiap jiwa sangat membutuhkan amalan dzikir.
 
Dengan demikian, apa saja manfaat utama dari amalan yang sampai dibahas secara khusus oleh Imam Ghazali ini?
 
Pertama, kebahagiaan setelah kematian
Ketika seorang Muslim meninggal dunia, maka harta, istri, anak, dan kekuasaan akan meninggalkannya. Ya, tidak ada lagi yang bersamanya selain dzikir kepada Allah Ta’ala. Saat itulah, amalan dzikir akan memberikan manfaat yang luar biasa bagi diirnya.
Imam Ghazali memberikan ilustrasi menarik akan hal ini. “Ada orang bertanya, ‘Ia sudah lenyap, lalu bagaimana perbuatan dzikir kepada Allah masih tetap kekal bersamanya?”
Imam Ghazali pun menjelaskan, “Sebenarnya ia tidak benar-benar lenyap, yang juga melenyapkan amalan dzikir. Ia hanya lenyap dari dunia dan alam syahadah, bukan dari alam malakut. Hal ini tertera dalam Al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 169-170.”
 
Kedua, Senantiasa Diingat oleh Allah SWT. 
 
Di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala berfirman;
 “Ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu (QS. Al-Baqarah [2]: 152).
 
Tsabit Al-Banani berkata, “Saya tahu kapan Allah mengingatku.” Orang-orang pun merasa khawatir dengan ucapannya sehingga mereka pun bertanya, “Bagaimana kamu mengetahuinya?” Tsabit menjawab, “Saat aku mengingat-Nya, maka Dia mengingatku.”
 
Dalam Hadits Qudsi juga disebutkan, “Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku akan bersama hamba-Ku selama ia mengingat-Ku dan kedua bibirnya bergerak karena Aku.” (HR. Baihaqi & Hakim).
 
Subhanallah, bagaimana kalau Allah yang mengingat diri kita yang dhoif. Bayangkan saja, seorang kepala desa akan sangat senang jika dirinya senantiasa diingat oleh gubernur atau presiden. Bagaimana kalau yang mengingat kita adalah Allah Ta’ala, Rabbul ‘Alamin!
Pantas jika kemudian sahabat Nabi Shallallahu alayhi wasallam, Muadz bin Jabal berkata, “Tidak ada yang disesali oleh penghuni surga selain waktu yang mereka lewatkan tanpa berdzikir kepada Allah Ta’ala.”
 
Ketiga, diliputi kebaikan demi kebaikan
Seorang Muslim yang senantiasa berdzikir akan senantiasa mendapatkan kebaikan demi kebaikan.
 
Rasulullah bersabda, “Tiada suatu kaum yang duduk sambil berdzikir kepada Allah melainkan mereka akan dikelilingi oleh malaikat, diselimuti oleh rahmat dan Allah akan mengingat mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya.” (HR. Bukhari).
 
Sementara itu hadits yang lain menyebutkan, “Tiada suatu kaum yang berkumpul sambil mengingat Allah dimana dengan perbuatan itu mereka tidak menginginkan apa pun selain diri-Nya, melainkan penghuni langit akan berseru kepada mereka, ‘Bangkitlah, kalian telah diampuni. Keburukan-keburukan kalian telah diganti dengan kebaikan-kebaikan’.” (HR. Ahmad).
 
Oleh karena itu, sangat luar biasa kasih sayang Allah kepada umat Islam. Manfaat dzikir yang sedemikian luar biasa bagi kehidupan dunia-akhirat kita senantiasa Allah ulang-ulang di dalam kitab-Nya agar kita terus menerus mengamalkannya.

“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab [33]: 41).
 
Bahkan saat kita usai sholat pun, Allah tekankan agar kita terus berdzikir kepada-Nya.
 “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat, ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring” (QS. An-Nisa [4]: 103).
 
Dengan demikian, mari kita upayakan agar muncul rasa suka dan cinta untuk senantiasa berdzikir kepada-Nya. Karena amalan ini sangat mudah diamalkan dengan manfaat yang sangat luar biasa. Tidak saja menjamin kebaikan di dunia, tetapi juga memastikan kebaikan di akhirat. Semoga Allah anugerahi kita hati yang senantiasa suka, cinta dan rindu untuk selalu berdzikir kepada-Nya. Wallahu a’lam.*

Share:

Hati yang Bening

Suatu ibadah yang sangat bernilai di sisi Allah, tapi sedikit wujudnya di tengah-tengah manusia… Dialah “Hati Yang Bening”.
Sebagian dari mereka ada yang mengatakan, “Setiap kali aku melewati rumah seorang muslim yang megah, saya mendoakannya agar diberkahi.”
Sebagian lagi berkata, “Setiapkali kulihat kenikmatan pada seorang Muslim (mobil, proyek, pabrik, istri shalihah, keturunan yang baik), saya mendoakan: ‘Ya Allah, jadikanlah kenikmatan itu penolong baginya untuk taat kepada-Mu dan berikanlah keberkahan kepadanya’”.
 
Ada juga dari mereka yang mengatakan, “Setiapkali kulihat seorang Muslim berjalan bersama istrinya, saya berdo’a kepada Allah, semoga DIA menyatukan hati keduanya di atas ketaatan kepada Allah”.
 
Ada lagi yang mengatakan, “Setiapkali aku berpapasan dengan pelaku maksiat, kudoakan dia agar mendapat hidayah”.
 
Yang lain lagi mengatakan, “Saya selalu berdo’a semoga Allah memberikan hidayah kepada hati manusia seluruhnya, sehingga leher mereka terbebas (dari neraka), begitu pula wajah mereka diharamkan dari api neraka”.
Yang lainnya lagi mengatakan: “Setiapkali hendak tidur, aku berdoa: ‘Ya Rabb-ku, siapapun dari kaum Muslimin yang berbuat zalim kepadaku, sungguh aku telah memaafkannya, oleh karena itu, maafkanlah dia, karena diriku terlalu hina untuk menjadi sebab disiksanya seorang muslim di neraka’”.
 
Itulah hati-hati yang bening. Alangkah perlunya kita kepada hati-hati yang seperti itu.
Ya Allah, jangan halangi kami untuk memiliki hati seperti ini, karena hati yang jernih adalah penyebab kami masuk surga.
 
Suatu malam, Hasan Bashri berdo’a, “Ya Allah, maafkanlah siapa saja yang menzalimiku”… dan ia terus memperbanyak do’a itu!
 
Maka ada seseorang yang bertanya kepadanya, “Wahai Abu Sai’d… Sungguh, malam ini aku mendengar engkau berdoa untuk kebaikan orang yang menzalimimu, sehingga aku berangan-angan, andai saja aku termasuk orang yang menzalimimu, maka apakah yang membuatmu melakukannya?
 
Beliau menjawab: “Firman Allah (yang artinya):
“Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya kembali kepada Allah’”. [Q.S. Asy-Syuuro: 40].
 
Sungguh, itulah hati yang dijadikan shalih dan dibina oleh para pendidik dan para guru dengan berlandaskan Al-Qur’an dan as-Sunnah. Maka, selamat atas surga yang didapatkan oleh mereka.

Janganlah engkau bersedih meratapi kebaikanmu. Sebab jika di dunia ini tidak ada yang menghargainya, yakinlah bahwa di langit ada yang memberkahinya.
Hidup kita ini bagai bunga mawar. Padanya terdapat keindahan yang membuat kita bahagia, namun padanya juga terdapat duri yang menyakiti kita.
Apapun yang ditakdirkan menjadi milikmu akan mendatangimu walaupun engkau lemah!
Sebaliknya apapun yang tidak ditakdirkan menjadi milikmu, engkau tidak akan dapat meraihnya, bagaimanapun kekuatanmu.

Share:

Malu Sama Allah

Tidur kita terlalu panjang, terlalu nikmat. Tiada mau bangun malam, atau tiada memanjangkan malam.

Paginya kita jalani tanpa dhuha. Sekalinya dhuha, hanya syarat saja, 2 rakaat.

Kemudian kita diajak zakat dan sedekah, kita keluarkan sebatas yang menjadi syarat saja. Enggaan sepertinya mengeluarkan lebih buat Allah. Minimalis.

Kita jarang jamaah di masjid, yang karenanya suka hilang 4 macam shalat sunnah; shalat sunnah syukur wudhu, shalat sunnah tahiyyatul masjid, shalat sunnah qabliyah, dan shalat sunnah ba’diyah.

Rumah Allah itu masjid. Tapi kita seperti males bener masuk rumahnya Allah. Kalo giliran ke rumah orang penting, kita rela mencari tahu siapa yang bisa menjadi koneksi kita ke sana, dan kemudian rela menunggu berjam-jam hingga si orang penting ini keluar.

Tapi kalo ke rumah Allah? Udah suka pakai pakaian seadanya, juga lebih sering seperti orang buang hajat, kayak ga betah. Maunya buruburuuuuuu aja.

Hidup kita banyak sia-sianya. Padahal tahu bakalan mati, bakalan dihisab, bakalan ditanya, bakalan dikumpulkan di padang mahsyar, bakalan melewati titian jembatan shirothol mustaqim, bakal berhadapan dengan Allah Yang Maha Tahu. Atau tidak tau? Tapi masa iya?

Mungkin yang lebih tepat, tau, tapi ga mikirin kali. Masa engga tau bahwa yang hidup bakalan mati. Tapi oke lah, mungkin benar ga tau, mudah-mudahan sekarang jadi tau.

Repot bin susah jika hidup kita banyak sia-sianya, sedikit amal shalehnya, apalagi jika buanyaaak maksiatnya.

Maluuuuu sama yang sudah memberikan kita hidup dan kehidupan.

Kita tau kesehatan itu mahal. Untuk mencari kesembuhan kita ridho kehilangan semua harta kita, asal sehat, asal sembuh.

Sedangkan Allah adalah Tuhan yang menghidupkan kita, membuat kita lahir ke dunia ini, dan bertahun-tahun bahkan berpuluh-puluh tahun sudah memberikan kita bukan hanya kesehatan, tapi juga rezeki yang lain.

Wajar kalau kemudian Allah SWT menyindir kita semua.

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmatAllah).”(QS.Ibrahim: 34)

Share:

KOLEKSI BUKU

HIDANGAN WEB

BERBAGI HIKMAH | merupakan salah satu wadah untuk saling nasihat-menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Menggali mutiara yang masih tersembunyi di dalam hati. Menyirami qalbu yang kering.

Mari menjadi bagian dari Berbagi Hikmah:
Fanspage : Berbagi Hikmah
Whatsapp : Group WA Berbagi Hikmah
Contact : 085647291245 (Call/SMS/WA)

Bersama melembutkan hati.

Recent Comment